Hardinisa Syamitri, Wujudkan Masa Depan Kesehatan yang Lebih Cerah Di Luak Begak

Hardinisa Syamitri Bidan Desa Luak Begak

Indonesia dikenal dunia memiliki wilayah yang sangat luas, bahkan beberapa daerah masih sulit dijangkau karena ketiadaan akses menuju lokasi tersebut. Kesulitan untuk berhubungan dengan dunia luar ini terkadang membuat masyarakat lebih percaya dan memegang teguh apa yang sudah dilakukan secara turun-temurun, termasuk untuk masalah kesehatan. Praktik pengobatan tradisional masih mendominasi dan menjadi pilihan utama masyarakat karena memang hanya cara itu yang diketahui serta sudah menemani perjalanan hidup selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Lantas, bagaimana jika muncul seseorang yang berusaha menembus keterbatasan pola pikir masyarakat daerah tersebut untuk masalah kesehatan? Yah...kesulitan inilah yang diawali Hardinisa Syamitri atau yang lebih akrab dipanggil Icha, seorang bidan yang tempatkan di Jorong Luak Begak, Nagari Talang Anau, Kecamatan Gunuang Omeh, Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

Kisah Inspiratif Hardinisa Syamitri, Bidan Desa Di Jorong Luak Begak Mengubah Paradigma Msayarakat Tentang Kesehatan

Lazimnya lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Prima Nusantara Bukittinggi, yang pada tahun 2019 berubah menjadi Institut Kesehatan Prima Nusantara Bukittinggi, pastinya akan mengabdi menjadi salah satu tenaga kesehatan didaerahnya. Tahun 2006, setelah diterima menjadi salah satu bidan desa, Hardinisa Syamitri pertama kali mengunjakkan kaki di Luak Begak, sebuah kampung terpencil yang berpenghuni kurang lebih 500 jiwa, yang ketika itu belum diterangi listrik dan sinyal telekomunikasi.

Belum tersedianya fasilitas ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Mbak Icha untuk bisa menyesuaikan diri, namun yang lebih berat lagi Mbak Icha harus menghadapi penolakan dari warga masyarakat terhadap metode kesehatan baru yang dibawanya, khususnya untuk membantu persalinan wanita hamil. Hampir semua masyarakat di Luak Begak masih mempercayakan urusan kesehatan, terutama persalinan pada dukun beranak. Saat itu, dukun memiliki peran sangat penting untuk membantu masyarakat mengatasi berbagai problem kesehatan.

Bulan-bulan setelahnya Icha tinggal di Lauk Begak, masih belum ada perubahan bahkan oleh masyarakat ketika itu Icha yang berprofesi sebagai bidan desa dianggap aneh apalagi caranya membantu persalinan yang cukup berbeda dari cara yang masyarakat kenal selama ini, yang dilakukan oleh dukun beranak. Dengan kepercayaan yang sangat mengakar tentu sulit bagi Icha untuk melakukan tugasnya dengan baik. Setiap malam, Icha selalu memikirkan cara dan solusi yang tepat agar masyarakat mau percaya dan melakukan persalinan melalui tangan seorang bidan desa.

"Orang Tua" memiliki peran sangat penting untuk membangun kepercayaan masyarakat akan bidan desa, karena seringkali ibu hamil yang melakukan persalinan dengan dukun karena anjuran dari orang tua, dan hal ini sudah berlaku secara turun-temurun. Mulailah Icha memutar otak mencari cara yang tepat untuk mendekati orang tua di Luak Begak. Hardinisa Syamitri, sang bidan desa akhirnya memperluas layanan kesehatannya dan tidak hanya fokus mengurus masalah persalingan, agar bisa mendekati para orang tua di Luak Begak.

Mula-mula, Mbak Icha mendatangi satu persatu rumah warga yang memiliki anggota keluarga usia lansia atau orang tua untuk diajak bergabung dalam Program Sehat Rohani dan Jasmani (Seroja). Ide ini muncul sebagai buah pikiran Mbak Icha yang hampir tiap malam tidak bisa tidur memikirkan cara agar masyarakat mau beralih menggunakan layanan kesehatan yang direkomendasikan oleh pemerintah. Keberadaan Mbak Icha di Luak Begak merupakan kepanjangan tangan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Limapuluh Kota.

Wujudkan Masa Depan Kesehatan yang Lebih Cerah Di Luak Begak

Apa saja program kesehatan yang dilakukan Seroja? Awalnya melalui program Seroja yang digagasnya, Mbak Icha mengajak para lansia untuk aktif berolahraga dengan senam pagi. Tujuannya, jika cara ini nerhasil dilaksanakan maka akan dilanjutkan dengan edukasi tentang pentingnya pengobatan medis dan mengubah paradigma kesehatan masyarakat Luak Begak bahwa untuk mendapatkan layanan kesehatan tidak lagi harus bergantung dengan dukun, terutama untuk ibu-ibu hamil yang akan melakukan persalinan.

Meskipun sudah merancang program sedemikian rupa, bukan berarti langsung berhasil karena di awal akan dilakukan program ini, banyak mengalami penolakan. Banyak lansia yang masih ragu dan enggan bergabung dengan berbagai alasan, mulai dari sibuk bekerja, mengasuh cucu, tidak punya waktu, dan alasan lainnya.  Banyak diantaranya bahkan menganggap aneh program Mbak Icha yang seharusnya fokus masalah persalinan dan tugasnya sebagai bidan desa, justru mengajari orang tua yang merasa lebih berpengalaman.

Pantang putus asa, Mbak Icha terus membujuk dan gigih mengajak para lansia untuk bergabung dalam programnya, hingga akhirnya ada 10 lansia yang mau aktif dalam kegiatan Seroja. Kegiatan ini dilakukan berpindah-pindah, kadang dirumahnya, posyandu, atau rumah salah satu warga. Selain tetap membahas masalah persalinan, Mbak Icha mulai menyelipkan beberapa pengetahuan dan informasi seputar penyakit yang rawan dialami para lansia.

Program Seroja Bidan Hardinisa Syamitri
Sumber foto: https://www.tagar.id/

Saat para lansia sudah mulai tersadarkan akan pentingnya pertolongan medis untuk berbagai masalah kesehatan, maka secara otomotis keluarga terutama anak dan cucunya akan lebih mudah untuk diajak berobat secara medis. Perlahan namun pasti, harapan Mbak Icha dengan dibentuknya Seroja ini mulai membuahkan hasil yang baik.

Bukan saja anggota Seroja yang mulai bertambah menjadi lebih dari 30 lansia, tapi juga kegiatan edukasi mulai bertambah, tidak hanya membahas seputar masalah persalinan dan kesehatan semata, tapi juga aktif melakukan aktivitas lain seperti aktif menari dan kasidahan. Aktivitas inilah yang membuat para lansia menjadi lebih bersemangat, dan tanpa sadar mulai mengubah paradigma sebelumnya tentang kesehatan.

Perlahan namun pasti, masyarakat di Jorong Luak Begak sudah mulai mengakui pentingnya pertolongan tenaga medis khususnya bidan desa untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan dan persalinan. Bahkan, di tahun 2010, tepat setelah tiga tahun Seroja berdiri, masyarakat sudah mulai meninggalkan dukun bayi untuk membantu persalinan. Kini, ibu-ibu hamil di Jorong Luak Begak sudah lebih mempercayai melahirkan lewat bidan.

Meskipun harus diakui bukan hal mudah mengubah paradigma masyarakat tentang keberadaan tenaga medis di kampungnya, namun bukan berarti masyarakat tidak memiliki masa depan lebih cerah terutama untuk masalah kesehatan. Ketekunan dan sikap pantang menyerah Hardinisa Syamitri dalam mengubah pola pikir masyarakat Jotong Luak Begak bisa menjadi inspirasi khususnya bagi tenaga medis yang karena tugasnya, harus menghadapi problem yang sama.

Tahun-tahun yang penuh tantangan di Jorong Luak Begak kini mulai berlalu, namun bukan berarti tugas sudah selesai, Mbak Icha harus menunaikan tugas baru yang menghadapi tantangan nyaris sama dengan Jorong Luak Begak. Kali ini, Mbak Icha kembali bertugas sebagai bidan desa di Jorong Talang Anau yang merupakan tetangga Luak Begak. Meskipun di daerah baru ini praktis dukun masih ada, bahkan masih aktif, namun tidak separah saat pertama kali menginjakkan kaki di Luak Begak.

Lantas, bagaimana dengan program seroja di Luak Begak? Meskipun Mbak Icha sudah tidak lagi menjadi bidan desa di Luak Begak namun kegiatan ini masih tetap aktif, bahkan kegiatan ini mulai diperluas hingga ke Talang Anau, daerah tempat Mbak Icha bertugas sekarang.

Atas kontribusinya dalam upaya mewujudkan masa depan kesehatan yang lebih cerah di Luak Begak, pada tahun 2013  Hardinisa Syamitri berhasil meraih penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Award. Mbak Icha berhasil menyabet juara 1 bidang kesehatan di ajang lomba tahunan persembahan PT Astra International Tbk, untuk kategori generasi muda menginspirasi.

Tidak cukup sampai di situ, berkat ketekunan dan kegigihannya melaksanakan program seroja, Mbak Icha berhasil membawa puskesmas pembantu tempatnya bekerja menjadi puskesmas terbaik kedua tingkat Kabupaten Limapuluh Kota di tahun 2010. Bahkan, Mbak Icha menjadi terbaik 1 kategori tenaga kesehatan telatan Kabupaten Limapuluh Kota 2019.

Langkah sunyi, berat, dan panjang yang sudah dilalui Hardinisa Syamitri ini menunjukkan bahwa masih banyak generasi muda yang dengan ketekunan, kerja keras, dan kegigihannya mau memperjuangkan serta mencaro solusi atas berbagai masalah kesehatan yang dialami masyarakat, khususnya yang masih tinggal di daerah terpencil dan tertinggal. Semoga makin banyak generasi muda yang memiliki tekad kuat untuk bersama mewujudkan masa depan kesehatan yang lebih cerah untuk seluruh daerah di Indonesia.

Referensi Artikel:

https://www.liputan6.com/tv/read/2310839/sosok-minggu-ini-bidan-muda-di-desa-terpencil

https://www.tagar.id/bidan-icha-pahlawan-di-jalan-sunyi

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar